Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 November 2013

Akhlak Terhadap Sesama Manusia Dalam Islam

Akhlak terhadap Sesama Manusia dalam Islam

10 Oktober 2009 pukul 16:30
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Quran berkaitan dengan perlakuan terhadap sesama manusia.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah [2]: 263).

Di sisi lain Al-Quran menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar. Nabi Muhammad saw --misalnya-- dinyatakan sebagai manusia seperti manusia yang lain.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya (QS An-Nur [24]: 27).
Salam yang diucapkan itu wajib dijawab dengan salam yang serupa, bahkan juga dianjurkan agar dijawab dengan salam yang lebih baik (QS An-Nisa' [4]: 86).
Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia (QS Al-Baqarah [2]: 83).

Bahkan lebih tepat jika kita berbicara sesuai dengan keadaan dan kedudukan mitra bicara, serta harus berisi perkataan yang benar,

"Dan katakanlah perkataan yang benar" (QS Al-Ahzab [33]: 70).

Tidak wajar seseorang mengucilkan seseorang atau kelompok lain, tidak wajar pula berprasangka buruk tanpa alasan, atau menceritakan keburukan seseorang, dan menyapa atau memanggilnya dengan sebutan buruk
(baca Al-Hujurat [49]: 11-12).

Yang melakukan kesalahan hendaknya dimaafkan. Pemaafan ini hendaknya disertai dengan kesadaran bahwa yang memaafkan berpotensi pula melakukan kesalahan. Karena itu, ketika Misthah --seorang yang selalu dibantu oleh Abu Bakar r.a.-- menyebarkan berita palsu tentang Aisyah, putrinya, Abu Bakar dan banyak orang lain bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah. Tetapi Al-Quran turun menyatakan:

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat(-nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah dijalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan, serta berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni kamu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS An-Nur [24]: 22).

Sebagian dari ciri orang bertakwa dijelaskan dalam Quran surat Ali Imran (3): 134, yaitu: Maksudnya mereka mampu menahan amarahnya, dan memaafkan, (bahkan) berbuat baik (terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahan terhadapnya), sesungguhnya Allah senang terhadap orang yang berbuat baik.

Dalam Al-Quran ditemukan anjuran, "Anda hendaknya mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan Anda sendiri."

"Mereka mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri, walaupun mereka amat membutuhkan"

(QS Al-Hasyr [59]: 9).

Jika ada orang yang digelari gentleman --yakni yang memiliki harga diri, berucap benar, dan bersikap lemah lembut (terutama kepada wanita)-- seorang Muslim yang mengikuti petunjuk-petunjuk akhlak Al-Quran tidak hanya pantas bergelar demikian, melainkan lebih dari itu, dan orang demikian dalam bahasa Al-Quran disebut al-muhsin.

Sumber :
http://al-quran.bahagia.us/_q.php?_q=sihab&dft=&dfa=&dfi=&dfq=1&u2=&ui=1&nba=14#6

URL untuk link ke notes ini :
http://www.facebook.com/note.php?note_id=150125188762

Selasa, 19 Maret 2013

7 MANFAAT DIAM


1.     Merupakan Ibadah tanpa harus capek
2.     Merupakan hiasan diri tanpa perhiasan
3.     Wibawa tanpa kekuasaan
4.     Benteng tanpa dinding
5.     Tidak perlu meminta maaf kepada siapapun
6.     Malaikat pencatat amal menjadi rehat J
7.     Penutup keburukan dan sisi-sisi kejahiliyahan diri

Dengan diam, anda mendapatkan kekuatan hebat untuk berfikir secara mendalam tentang apa yang terjadi di sekelilingmu, serta dapat konsentrasi dengan penuh tentang rasionalitas suatu jawaban.
Dengan diam anda telah menguasai orang-orang yang ada di hadapan anda melalui pandangan mata anda yang mengandung banyak makna tersembunyi, yang membuat mereka kebingungan dalam memberikan tafsirnya

Diam yang disertai sedikit gerak pisik dan isyarat mata telah memaksa orang yang ada di hadapan anda harus banyak mengungkapkan isi hatinya, sehingga ia lebih banyak berbicara daripada yang seharusnya ia berbicara

Bisa jadi diam terasa oleh orang lain sebagai serangan terselubung yang menjadikannya semakin mendongkol, sehingga anda menjadi lebih kuat tanpa harus berbicara dan bercapek-capek

Diam bisa menjadi solusi paling jitu dalam menghadapi berbagai problema rumah tangga ringan yang bertumpuk-tumpuk

Di saat-saat genting, diam dapat melahirkan sikap dihormati, sebaliknya, perlawanan dan perdebatan dapat melahirkan sikap semakin menjauh dan dendam

Dengan diam, anda telah menghancurkan berbagai senjata orang yang berseteru denganmu, serta menelanjangi mereka dari kemampuannya untuk melanjutkan kosa katanya

Diam telah menjadi guru yang baik agar anda belajar menjadi pendengar yang baik, di mana banyak orang telah kehilangan sifat ini.

TSIQAH DAN I’TIMAD KEPADA ALLAH


Berikut adalah kisah nyata yang pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Hassan, semoga Allah SWT memberkati ilmu dan umurnya
Kisah tentang seorang wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya karena suatu urusan, kepergian yang berkepanjangan.
Wanita tersebut menuturkan:
Saat suami saya pergi, dan ternyata kepergiannya berkepanjangan, saat itu tinggal bersama kami orang tua suami yang sudah sangat berumur dan menderita penyakit yang sudah sangat parah. Dan – Alhamdulillah – kami dikaruniai Allah SWT seorang anak perempuan yang masih kecil. Keluarga kami adalah keluarga yang sangat miskin, jika kami makan siang, maka kami tidak makan malam, dan sebaliknya. Kondisi seperti ini sudah berlangsung lama pada keluarga kami.
Pada suatu malam, saat kami sedang menderita kelaparan dengan sangat berat, tiba-tiba anak perempuannya terkena demam serius, badannya sangat panas, tubuhnya menggigil dengan sangat kuat, padahal bapak mertua juga tidak dalam keadaan yang baik, saya sendiri juga sangat lapar, dan perut sudah berkelit-kelit. Saat itu saya teringat kepada Q.S. An-Naml: 62
أَمَّنْ يُجْيْبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْءَ ... [النمل : 62]
Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan
Ya, betul, bukankah kami sedang dalam kesulitan dan kesulitan, bukankah kami dalam keadaan lapar, sakit, fakir, kanker, dan … banyak dosa?
Teringat ayat tersebut, saya segera berwudhu, lalu aku basahi potongan kain dengan air, lalu saya tempelkan pada dahi putri saya, maksudnya adalah mengkompress-nya agar panasnya mereda, sebab kami tidak mempunyai es untuk mengkompresnya. Setelah itu aku berdiri untuk melakukan shalat hajat. Selesai shalat, saya berdo’a kepada Allah SWT. Lalu kuganti kain kompres yang telah mongering dengan kain basah yang baru, lalu aku shalat lagi dan berdo’a lagi, begitu seterusnya berulang-ulang aku melakukannya.
Tiba-tiba pintu rumah diketuk orang dan saat saya buka, ternyata seorang dokter berdiri di depan pintu. Dokter? Ya.. yang berdiri di depan pintu adalah seorang dokter yang datang ke rumah kami di tengah malam. Sang dokter bertanya: “Mana putrimu yang sakit itu?”. Sambil menyimpan rasa bingung dan belum hilang rasa terkejut saya, saya menjawab: ‘Ada di dalam. Sang dokter masuk rumah dan langsung memeriksa putri saya. Selesai memeriksa, sang dokter menyuguhkan faktur biaya yang harus kami bayar. Maka saya pun menjawab: “Mohon maaf, karena kami tidak memiliki apa-apa, kami tidak mempunyai uang, kami tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk membayar tagihan ini.
Sambil marah sang dokter menjawab: “Kalau memang tidak mempunyai apa-apa, kenapa kamu menelpon kami di tengah malam, sehingga saya tergopoh-gopoh bangun dan berangkat ke tempat ini!”.
Wanita itu menjawab sambil gemetaran karena teringat harus membayar biaya pemanggilan dokter, biaya periksa dan biaya obat: “Mohon maaf dokter, di rumah kami tidak ada telpon!”.
Dengan bingung dokter menjawab: “Bukankah ini rumah si fulan?”
Sang wanita menjawab: “Bukan, si fulan itu adalah tetangga sebelah kami”.
Dokter terdiam sejenak, lalu pergi berpamitan.
Tidak berapa lama dokter itu datang lagi sambil menangis, dan ia berkata: “demi Allah, saya tidak akan keluar dari rumah ini sebelum kami mengetahui kisah kalian, sebab, saat kami datangi rumah si fulan itu, mereka dalam keadaan tidur semua, dan saat kami bangunkan, mereka ternyata tidak memiliki anggota keluarga yang sakit”.
Maka wanita tersebut menceritakan kondisinya secara lengkap, termasuk cerita tentang bagaimana ia memohon kepada Allah SWT, sehingga sang dokter itu tiba.
Segera sang dokter itu pergi lalu kembali lagi dengan membawa makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya, dia juga membawa obat. Lalu ia berkata kepada wanita tersebut: “Nanti setiap bulan insyaAllah aka nada yang datang ke sini untuk memberi kafalah kepada kalian, begitu seterusnya sampai waktu yang Allah SWT kehendaki”.
Sungguh, ini sebuah kisah yang menggambarkan betapa penting tsiqah dan I’timad (bersandar) kepada Allah SWT

Adab di Dalam Masjid

ADAB – ADAB DI DALAM MASJID


1.   Menuju Masjid


Sahabat mulia Ibnu Mas’ud ra memberikan tuntunan kepada kita ketika sedang berjalan menuju rumah Allah, sebuah do’a yang artinya sbb :

Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di mataku, cahaya dari belakangku, cahaya dari mukaku, cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, berikanlah aku cahaya”, ( HR. Bukhari Muslim, shahih ).


2.   Berjalan Dengan Tenang dan Khidmat

Rasulullah SAW telah bersabda :
“Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dengan berlari, tetapi datanglah kepadanya dengan berjalan dan memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yang kamu dapati ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah”, ( Muttafaq’alaih ).

3.   Berdo’a, Dahulukan yang Kanan

Tak jarang, karena lupa atau nggak tahu, pemandangan slonong boy kerap kali terjadi. Banyak dari kita ketika memasuki masjid melupakan sebuah tuntunan Rasulullah SAW yakni berdo’a. Sesuai sabda Nabi :
Apabila salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka bersholawatlah kepada Nabi SAW, kemudian ucapkanlah, ”Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmatmu”, dan apabila keluar, ucapkanlah, Ya Allah, aku memohon sebagian karunia kepadaMu.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, An Nasai).

Dalam sumber yang berasal dari A’isyah ra dikatakan :
Rasulullah SAW menyukai mendahulukan yang kanan dalam bersandal, bersisir, bersuci dan seluruh kegiatannya.” (Bukhari – Muslim).

4.   Tebarkan Salam

Dalah hal ini, Allah ’Azza wa Jalla berfirman :
Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu mengucapkan salam kepada penghuninya sebuah salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkati lagi baik.” (QS. An Nur: 61)

Sebuah hadits juga menerangkan,
Suatu hari Rasulullah SAW lewat di masjid dan terdapat sekelompok wanita yang sedang duduk-duduk. Maka beliau pun melambaikan tangan sambil berucap salam.” (HR. Tirmidzi ).

Dari hadits tersebut terkandung sebuah makna yang mesti kita pahami, bahwa sebuah sunnah yang baik untuk kita lakukan ketika masuk masjid adalah menebar salam kepada orang yang berada di dalamnya, seperti halnya yang telah dilakukan Rasulullah SAW.

5.  Awali Dengan Dua Raka’at

Nah, sebelum duduk, sunnah yang sangat penting kita perhatikan adalah melakukan sholat sunnah dua raka’at (tahiyatul masjid).
Rasulullah SAW bersabda, sebagai bentuk anjuran dan penekanan kepada umatnya,
Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid, maka sholatlah dua raka’at sebelum duduk.” (HR. Muslim).

6.   Bau Tak Sedap ? Hindari !

Etika yang banyak sekali tidak diperhatikan oleh sebagian orang adalah tidak mau menjaga dirinya dari bau yang tidak sedap, padahal Nabi kita telah bersabda :
Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung, maka hendaklah ia menjauhi masjid kami dan duduk di rumahnya.” (HR. Muslim).

Dalam sumber lain dikatakan,
Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung, maka janganlah ia mendekati masjid kamu, sebab para malaikat terganggu oleh apa yang mengganggu keturunan Adam.”

Hadits tersebut merupakan dalil kuat bagi larangan masuknya seorang yang memakan bawang putih dan semisalnya ke masjid, meski masjid tersebut dalam keadaan kosong. Hal ini berdasarkan keumuman larangan yang ditunjukkan oleh sabda Rasulullah SAW.

7.   Mesti Menjaga Kebersihan

Sampah berserakan, kotoran di mana-mana dan sederet noda berjibun di dalam masjid. Fenomena seperti ini sering kali kita lihat. Masjid yang sedianya sebagai tempat untuk beribadah seperti: dzikir, membaca Al-Qur’an, shalat, bermajelis ilmu dan lainnya, sering terusik dan terganggu karena adanya kotoran dan najis. Kita lupa akan sebuah peringatan yang dikeluarkan lisan mulia Rasulullah SAW,
Sesungguhnya masjid ini tidaklah patut untuk sesuatu berupa kencing dan kotoran, kecuali untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an”. (HR. Muslim).

8.   Dahulukan Kaki Kiri

Ketika keluar masjid, sunnah yang sangat ditekankan Rasulullah SAW dengan mendahulukan kaki kiri sembari berdo’a,
Ya Allah, aku memohon sebagian karunia kepadaMu.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, An Nasai).

9.   Yang Terlarang, Jangan Lakukan !

Sebenarnya banyak sekali yang mesti kita hindari ketika berada di dalam masjid. Namun disini akan kita sajikan beberapa hal, dengan harapan yang terlarang ini dapat kita waspadai dan kita hindari.

·         Lewat Di Depan Orang yang Sedang Shalat
Rasulullah SAW bersabda,
Seandainya orang yang lewat di hadapan orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa yang bakal ditanggungnya, maka menunggu selama empat puluh, lebih baik baginya ketimbang lewat di hadapan orang shalat.” Abu Nadhar mengatakan, ”Saya tidak mengetahui, apakah beliau mengatakan empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.” (Riwayat Jama’ah).

·         Mengeraskan Suara
Larangan ini didasarkan pada sebuah sumber yang berasal dari As-Saib Bin Yazid, ia menuturkan,
Ketika aku sedang berdiri di masjid, tiba-tiba seseorang melemparku dengan kerikil. Aku pun menoleh kepadanya, ternyata ia adalah Umar Bin Khattab. Ia berkata, ”Pergilah dan datangkan dua orang tersebut!” Lalu aku membawa kedua orang tersebut. Umar berkata, ”Siapa dan dari mana kalian?” keduanya menjawab, ”Dari Thaif.” Umar kemudian berkata, ”Seandainya kalian adalah penduduk negri ini, tentu akan membuat kalian pingsan, (lantaran) kalian meninggikan suara di masjid.” (HR. Bukhari).
Isyarat larangan ini ditujukan bagi sesuatu yang tidak ada faedahnya, sedangkan sesuatu yang di dalamnya terkandung manfaat dan darurat, maka boleh sebagaimana pendapat Imam Al-Bukhari.

·         Jual-Beli
Secara asal hukum jual beli adalah mubah (boleh), namun ketika transaksi ini dilakukan di dalam masjid, menjadi terlarang alias tidak boleh. Rasulullah SAW menegaskan larangan ini dalam sabdanya,
Apabila kalian melihat orang yang melakukan jual-beli di dalam masjid, maka katakanlah, ”Semoga Allah tidak menjadikan untung dalam perdaganganmu.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ad-Darimi).
Dalam riwayat lain disebutkan,
Bahwasanya Rasulullah SAW melarang jual-beli di dalam masjid.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, dan lainnya).

·         Mencari dan Mengumumkan Kehilangan
Masjid dibangun untuk urusan akhirat, bukan untuk kepentingan duniawi, terlebih pribadi maupun golongan. Makanya Rasulullah SAW bersabda,
Barang siapa mendengar seseorang kehilangan di dalam masjid, maka katakanlah, ”Allah tidak mengembalikan barangmu” sebab masjid dibangun bukan untuk kepentingan itu.” (HR. Muslim).

·         Pakai Pakaian yang Menganggu
Pakaian yang nyeleneh atau berlebihan corak dan ragamnya dapat pula menyebabkan tidak khusyu’nya orang lain dalam melakukan sholat. Pasalnya ia akan terbayang dengan pakaian yang dikenakan oleh temannya. Makanya, ketika Aisyah menjadikan kain bajunya sebagai gorden sisi rumahnya, Rasulullah SAW bersabda,
Jauhkanlah gorden (beraneka warna) ini dari sisi kami, sebab gambar-gambarnya senantiasa tampak dalam shalatku.”.(HR. Bukhari).

·         Campur Baur
Tentunya larangan ikhtilat (campur baur) ini tak terbatas di dalam masjid saja, tetapi juga di tempat lain. Karena teks larangan dalam hal ini bersifat umum. Rasulullah SAW bersabda,
Janganlah seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita. Sebab yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad).

10.   Boleh Dilakukan

Selain berfungsi khusus sebagai tempat ibadah, masjid juga boleh dipergunakan sebagai ajang untuk melakukan aktifitas lain, yang tentunya diperbolehkan syariat, seperti :
·         Mengadakan Majelis Ilmu
·         Tidur di dalam Masjid
·         Berlatih Ketangkasan
·         Tempat Pengobatan

Referensi :
Bulughul Maram. Al Hafidh Ibnu Hajar Asqalany.