Tampilkan postingan dengan label ALLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALLAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

Ilmu Allah

Dalam asmaul husna, Allah swt. disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui).
Bahwasanya ilmu Allah tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, yang dahulu, sekarang, ataupun besok, baik yang ghaib maupun yang nyata.


“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi.”(QS. Al-Hajj: 70)

“Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hasyr: 22)

Tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah swt. Sebutir biji di dalam gelap gulita bumi yang berlapis tetap diketahui Allah swt. “Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang.” (QS. Al-An’am: 59)

Ilmu Allah swt. maha luas, tak terjangkau, dan tak terbayangkan oleh akal pikiran, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah dan akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia, malaikat, dan makhluk manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah swt. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Tentang tubuhnya sendiri saja, tidak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai manusia. Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji.
Belum lagi tentang astronomi. Berapa banyak bintang, galaksi di langit, berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya, dan seterusnya. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai miliknya pribadi, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu tak berarti. Jika saja ada manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara kekuasaan, kerajaan Allah swt. tak akan tertandingi sedikitpun jua.
Allah swt. menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya manusia bila dibandingkan dengan ilmu Allah swt., dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah swt., niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan.

“Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al Kahfi: 109)

“Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Luqman: 27).

Allah swt. telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta atau al-kaun (universum). Simaklah firman Allah swt. berikut ini:

“Dia lah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr: 24).
Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah maupun kauniyah. Karena di sana terdapat lautan ilmu-Nya, serta dorongan untuk mengkaji maupun mengimplementasikannya. “Hai jama’ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman: 33). Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika ingin menembus langit diperlukan energi yang besar.

Maka dengan segala bahan-bahan yang ada di alam ini manusia harus mampu mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah swt. telah menciptakan alam beserta isi dan sistemnya dan juga telah mengajarkannya kepada manusia. Dengan mencermati Al-Qur’an, akan melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang keberadaan ciptaan-Nya.
Timbulnya ilmu pengetahuan disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang berkemauan hidup bahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi qudrat dan iradat Nya, bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya. Telah tercantum dalam Al-Qur’an perintah Allah swt.: “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus: 101).

Hasil dari pemikiran manusia itu melahirkan ilmu pengetahuan dengan berbagai cabangnya. Maka ilmu pengetahuan bukanlah musuh atau lawan dari iman, melainkan sebagai wasailul hayah (sarana kehidupan) dan juga nantinya yang akan membimbing ke arah iman. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berpikir dalam, telah dipimpin oleh pengetahuannya kepada suatu pandangan, bahwa di balik alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.

Herbert Spencer dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut: “Pengetahuan itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadat secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatuyang kita selidiki dan kita pelajari, dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaany Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan berupa ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong bekerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama, yaitu Allah.”

“Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan hidrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya tidak lebih dari setitik air.”

Manusia sejak zaman dahulu telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki rahasia serta mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas bumi ini. Maka lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog, geolog, fisikawan, dan sebagainya, beserta para ahli filsafatnya di bidang tersebut.

Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan diciptakannya samapai sekarang ini tak berubah dan kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis, bergerak atau berubah.

Kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh ilmu pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan oleh adanya red shift, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat. Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron, dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat. Karena mengembang, maka suhu menurun sehingga proton dan neutron berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam atom yang terbentuk.

Para ahli ilmu alam telah menghitung bahwa masa mendidih itu tidak lebih dari 30 menit. Bila kurang artinya mengembung lebih cepat, alam semesta ini akan didominasi oleh unsur hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti mengembung lambat, unsur berat akan dominan.

Selama 250 juta tahun sesudah ledakan dahsyat, energi sinar dominan terhadap materi, transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, E = mc2. Dalam proses pengembungan ini energi sinar banyak terpakai dan meteri semakin dominan. Setelah 250 juta tahun maka masa dari meteri dan sinar menjadi sama. Sebelum itu, tidak dibayangkan bahwa materi larut dalam panas radiasi, seperti garam larut di air.

Pada masa itu, setelah lewat 250 juta tahun, materi dan gravitasi dominan, terdapat differensiasi yang tadinya homogen. Bola-bola gas masa galaksi terbentuk dengan garis tengah kurang lebih 40.000 tahun cahaya dan masanya 200 juta kali massa matahari kita. Awan gas gelap itu kemudian berdifferensiasi atau berkondensasi menjadi bola-bola gas bintang yang berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi atau pemadatan itu maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold reaksi inti, dan bintang itupun mulai bercahaya.
Karena sebagian dari materi terhisap ke pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya. Yaitu butir-butir debu berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih besar, berseliweran di ruang angkasa dan makin lama makin besar.
Proses kondensasi bintang pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa ratus juta tahun. Kita mengetahui bahwa bulan bergerak menjauhi bumi, hal ini berarti bahwa beberapa milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan bulan merupakan pecahan dari bumi yang memisahkan diri. Firman Allah swt.:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman.” (QS. Al Anbiya: 30)

Konsep ini jelas menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia, berdasarkan umur batu bulan, telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar tahun.
Dalam mempelajari red shift, jarak diukur dengan tahun cahaya, bukan dengan kilometer. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, sedangkan beberapa galaksi beberapa juta tahun cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang galaksi yang sangat jauh itu, sebetulnya kita sedang meneropong jauh ke masa yang silam. Dalam mempelajari galaksi yang jauhnya satu milyar tahun cahaya , sebetulnya membuktikan bahwa satu milyar tahun yang lalu alam semesta ini mengembung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sekarang. Hal ini berarti pula bahwa kita berada di alam semesta yang dinamis, bukan statis.

Lain dari itu penurunan kecepatan mengembung meramalkan bahwa pada suatu waktu pengembungan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi, pada akhirnya kembali kepada situasi kepadatan seperti asalnya lebih kurang lima milyar tahun yang lalu.
Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa alam semesta ini mengembung dan mengempis. Untuk lebih lanjut perhatikan uraian George Gemov dalam bukunya The Creation of the Universe, hal. 36: “…bahwa tekanan raksasa yang terjadi pada permulaan sejarah alam semesta, adalah akibat dari suatu kehancuran yang terjadi sebelumnya , dan bahwa pengembungan yang sekarang ini sebenarnya hanyalah suatu gerak kembali yang elastis yang terjadi segera setelah tercapai kepadatan maksimun yang diizinkan.”

Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana besarnya tekanan yang tercapai pada kepadatan yang maksimum itu, tetapi menurut semua petunjuk tekanan itu sungguh-sungguh amat tinggi. Besar kemungkinan seluruh massa alam semesta yang mempunyai kemungkinan bentuk yang bagaimanapun dalam masa pra kehancuran telah dimusnahkan secara sempurna, dan bahwa atom-atom dan intinya telah dipecahkan menjadi proton, neutron, dan elektron serta partikel dasar lainnya, jadi tak ada satupun yang bisa dituturkan tentang masa alam sebelum pemadatan alam semesta itu. Segera setelah kepadatan massa alam semesta itu mencapai titik maksimum, kepadatan yang sangat tinggi itu hanya bertahan dalam waktu sebentar saja.

Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta, adalah merupakan ciptaan (makhluk) Allah swt. sebegai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah swt. dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia tidak habis-habisnya mengagumi isi al-kaun ini terus mengambil pelajaran dan ibroh yang bermanfaat dari padanya.
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihtaanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (QS. Al Mulk: 3-4)
Tegaknya langit, keseimbangan benda-benda langit sesuai dengan ciptaan dan pengaturan dari Penciptanya.

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).” (QS. Ar Rahman: 7)

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidaka tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Faathir: 41)
Ayat di atas menyatakan adanya semacam penahan yang membawa kepada ketenangan benda-benda langit, meskipun benda-benda langit itu saling bergerak. Hal ini menunjukkan kenyataan kebenarannya terhadap umat manusia.

Para ahli fisika sudah cukup lama mengenal gaya gravitasi antara benda-benda bermassa yang bekerja secara luas dalam alam ini. Setelah Issac Newton pada tahun 1686 merumuskan hukum gravitasi, maka orang dapat dengan mudah memahami dan menerangkan berbagai peristiwa dalam jagat raya ini. Hukum-hukum Kepler yang sudah ada sebelum Newton, ternyata dapat dipahamkan sebagai akibat saja dari hukum gravitasi Newton tersebut.

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa universum itu berjalan dengan eksak, kokoh, teratur, rapi, dan harmonis, yang tidak akan ada habis-habisnya menjadi tantangan yang menakjubkan bagi manusia. Setelah beriman kepada Allah, maka menjadi mudah bagi kita untuk menerima bahwa hukum-hukum itu adalah sunatullah atau aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah bagi makhluk-Nya yang tidak berubah-ubah.
“Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (QS. Faathir: 43)

Demikianlah Allah swt. telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, seimbang, beraturan, sistemik. Maka Dia jualah yang paling tahu hakikat dan tujuan penciptaa-Nya, dan telah dikabarkannya ciptaan Allah swt. itu kepada manusia. Manusia telah diperintahkan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya, sehingga mampu memanfaatkannya. Dan agar manusia mampu mengenal pencipta-Nya serta mengagungkan-Nya; Dia lah Allah swt. tiada Tuhan selain-Nya. Dengan ilmu-Nya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya apa-apa yang telah diciptakan dengan proses terjadinya, sehingga manusia akan menjadi tahu dan berilmu. Setelah itu akan lahir cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap penjuru ufuk kehidupan manusia. Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan kebenaran dan menjadikannya sebagai landasan kehidupan.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53)

Ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyahAllah swt. menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan. Pertama, dengan ath-thariqah ar-rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah. Kedua, dengan ath-thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham secara kepada makhluk-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena tak melalui perantaraan malaikat Jibril, maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah.
Wahyu dalam pengertian ishtilahi adalah: “kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang menjadi hudan (petunjuk) bagi umat manusia”, baik yang diturunkan langsung, dari belakang tabir (min wara’ hijab) maupun yang diturunkan melalui malaikat Jibril, seperti firman Allah swt: “Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seseorang (malaikat) lalu diwahyukan kepadaNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi maha Bijaksana” (QS. Asy Syura: 51)

Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu dipertegas karena makna wahyu secara lughawi memiliki pengertian yang bermacam-macam, antara lain:
1. Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan kepada ibu Nabi Musa untuk menyusukan Musa yang masih bayi.
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil)…” (QS. Al-Qashash: 7).

2. Instink Hayawan, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-bukit, pohon-pohon, dan dimana saja dia bersarang.
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia” (QS. An-Nahl: 68).

3. Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih pagi dan sore.
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang” (QS. Maryam: 11).

4. Perintah Allah kepada malaikat, untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah kepada malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam Perang Badar.
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman…” (QS. Al Anfal: 12).

5. Bisikan syaitan
“…Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musrik.” (QS. Al-An’am: 121).
Dalam ayat tersebut ada kata layuhuna (mewahyukan) yang berarti membisikkan.

6. Hadits Qudsi, juga termasuk dalam wahyu (hadits yang maknanya dari Allah swt., sedangkan redaksinya dari Rasulullah saw.)

7. Hadits Nabawiy, (makna dan redaksinya dari Rasulullah saw.) karena pada hakekatnya apa saja yang berasal dari Rasulullah saw. mempunyai nilai wahyu.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dia; dan bertakwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt. berfirman: “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5)

“Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar Ra’du: 3)

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian tanah yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’du: 4)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)

Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki, dan merenungkan alam semesta (al-kaun) dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Kosmologi, Astronomi, Botani, Meterologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi, dan sebagainya. Sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, dan sebagainya.

Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah swt., maka dalam mendalami dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (al-kaun) harus mengacu firman Allah swt. sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab.
Sebagai misal dalam dunia teknologi kedokteran, pengalihan sperma ke sebuah rahim seorang wanita –dalam proses bayi tabung– harus memperhatikan sperma itu diambil dari siapa diletakkan ke rahim siapa. Proses kesepakatan, perizinan juga harus jelas. Jangan sampai bayi lahir menjadi tidak jelas nasabnya.

Di bidang astronomi tidak boleh diselewengkan untuk meramal nasib, padahal antara keduanya tak ada hubungan sama sekali. Dalam hal menikmati keindahan alam, akan menjadi suatu kedurhakaan jika dalam menikmatinya dengan membangun vila-vila untuk berbuat maksiat. Namun seorang mukmin menjadikan alam semesta adalah untuk tafakur agar dekat dengan-Nya.

Konsep Kebenaran IlmuWahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) memiliki nilai kebenaran yang mutlak (al-haqiqah al-muthlaqah) karena langsung berasal dari Allah swt. dan Rasul-Nya. Tetapi pemahaman terhadap wahyu yang memungkinkan beberapa alternatif pemahaman tidaklah bersifat mutlak. Sedangkan ilmu yang didapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran yang nisbi (realtif) dan tajribi (eksprimentatif) atau dengan istilah al-haqiqah at-tajribiyah.

Kebenaran yang mutlak harus dijadikan burhan atau alat untuk mengukur kebenaran yang nisbi. Jangan sampai terbalik, justru kebenaran yang mutlak diragukan karena bertentangan dengan kebenaran yang nisbi (relatif dan eksprimentatif). Sejarah ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa suatu penemuan atau teori yang dianggap benar pada satu masa digugurkan kebenarannya pada masa yang akan datang. Hal itu disebabkan keterbatasan manusia dalam mengamati, menyelidiki, dan menyimpulkan segala fenomena yang ada dalam alam semesta. Oleh sebab itu jika terjadi pertentangan antara kesimpulan yang didapat oleh manusia dari al kaun dengan wahyu, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan tersebut, atau menguji kembali pemahaman manusia terhadap wahyu. Logikanya, wahyu dan alam semesta semuanya berasal dari Allah set. yang Mahabenar, mustahil terjadi pertentangan satu sama lain.
Hikmah mengimani ilmu Allah swt.

Pertama, membuat manusia sadar bahwa betapa tidak berarti dirinya dihadapan Allah swt., sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air laut secara keseluruhan. Oleh karena itu manusia tidak ada alasan untuk sombong dan menjadikan ilmu menjadi penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada Yang Maha Mengetahui segalanya. Seharusnya manusia menjadikan ilmu untuk alat ber-taqarub kepada-Nya, sebagaimana perilaku para ulil albab.

Kedua, dengan menyadari bahwa ilmu Allah swt. sangat luas, tidak ada satupun –betapa pun kecil dan halusnya– yang luput dari ilmu-Nya, maka manusia akan dapat mengontrol tingkah laku, ucapan amalan batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai Allah swt.

Ketiga, keyakinan terhadap ilmu Allah swt. akan menjadi terapi yang ampuh untuk segala penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya. Maka dalam pemahamannya adalah dengan mengaplikasikan sifat Allah swt. tersebut dalam kehidupan nyata sehari-hari, berusaha melaksanakan perintah dan larangan-Nya baik di tempat ramai maupun sunyi. Kita tidak lagi terpengaruh dengan “diketahui” atau “tidak diketahui” oleh orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Karena kita menyadari betapa Allah swt. Maha Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar, memperhatikan apa yang kita lakukan di mana dan kapan saja.

Di zaman salafus saleh, kita masih ingat kisah seorang gadis shalihah dengan ibunya menjual susu. Suatu saat ibunya menyuruh dagangannya untuk dicampur dengan air, agar mendapatkan untung yang lebih. Namun putrinya menolak. “Bukankah Khalifah Umar tidak melihat?” kata sang ibu. “Tapi Tuhannya Umar mengetahui, Bu!” kata putrinya. Tak disangka percakapan itu didengar Umar bin Khaththab. Maka gadis shalihah tersebut dipinang untuk putra Umar sang Khalifah. Dan kita pun tahu persis bahwa dari seorang wanita shalihah ini, akhirnya menurunkan seorang cucu yang menjadi tokoh besar dalam sejarah: Umar Bin Abdul ‘Aziz yang legendaris.

Juga kisah seorang anak gembala dengan sekian banyak gembalaan milik tuannya. Suatu saat Umar bin Khaththab menguji kekuatan muraqabatullah-nya. Dikatakan kepada anak itu bahwa kambingnya akan dibeli dengan harga yang lebih. Namun anak itu menolak. “Kamu bisa mengatakan kepada tuanmu kambingnya dimakan binatang buas,” kata Umar r.a. “Lantas di mana Allah?” tanya anak tersebut. Subhanallah..!.

Sebenarnya bagi seorang muslim yang sudah ber-iltizam akan selalu merasa tenang, bahagia karena segala amal kebaikannya, tidak akan dirugikan sedikitpun, baik diketahui ataupun tidak oleh orang lain, kerena dia yakin bahwa Allah swt. telah mengawasinya. Sehingga seorang mukmin sejati akan senantiasa beramal dengan ikhlas karena Allah swt. semata, bukan karena guru ngajinya, apalagi karena calon istri ataupun mertuanya.

Tidak bangga karena pujian, tidak merasa lemah karena celaan. Tetap semangat walau tak diketahui orang, tak takabur ketika dilihat banyak orang. Juga tak takut dengan kegagalannya, atau tak bangga diri dengan keberhasilannya. Apapun yang terjadi tak akan mengoncangkan jiwanya, atau merusak muamalah dengan saudaranya, atau bahkan membahayakan akidahnya.

“Dan katakanlah; bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Hikmah Diutusnya para Rasul

Tanya: Mengapa Allah swt mengutus para rasul alaihimus salam?
Jawab:
1. Allah swt mengutus para rasul as untuk mengenalkan manusia tentang Rabb dan Pencipta mereka serta mendakwahkan mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya.

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahhyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Al-anbiya (21): 25).


2. Anda mengetahui bahwa semua bagian tubuh Anda telah diciptakan untuk tujuan dan manfaat tertentu (memiliki hikmah). Mata Anda diciptakan dengan tujuan dan tidak diciptakan sia-sia, demikian pula hidung Anda, telinga Anda, bahkan bagian tubuh paling kecil pun diciptakan dengan manfaat tertentu dan tidak ada yang sia-sia. Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa Anda secara keseluruhan pasti telah diciptakan untuk sebuah hikmah (tujuan) yang jelas dan tidak mungkin diciptakan sia-sia.
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'arsy yang mulia". (Al-Mu’minun [23]: 115-116).

Namun Anda tidak mungkin mengetahui hikmah tersebut kecuali dengan pengajaran Allah swt melalui para rasul alaihimussalam.

Penduduk bumi hari ini, 100 tahun yang lalu berada di alam ghaib kemudian lahir ke dunia, dan setelah maksimal 100 tahun lagi pasti mereka meninggalkan dunia ini. Manusia tidak akan pernah tahu mengapa ia datang ke dunia atau mengapa ia keluar setelah datang kecuali dengan informasi dari Allah yang telah menciptakannya setelah sebelumnya ia tidak ada sama sekali. Kemudian ia datang ke dunia dalam keadaan hidup kemudian dimatikan untuk keluar dari dunia. Allah swt mengutus para rasul as untuk mengajarkan kepada kita permasalahan ini dan ia adalah perkara yang paling krusial dan terpenting yang tidak dapat kita ketahui tanpa mereka.

Allah swt Rabb yang telah menciptakan kita, Dia lebih mengetahui tentang apa saja yang dapat memperbaiki diri dan keadaan kita, apa saja yang menyucikan jiwa kita, membersihkan akhlaq kita dan Dia telah memberi petunjuk kepada kita melalui para rasul as tentang semua hal yang mengandung hakikat kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah swt berfirman:
"Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui". (Al-Baqarah [2]: 151).

3. Allah swt mengutus para rasul untuk menyelamatkan manusia dari perselisihan tentang prinsip-prinsip hidup mereka dan menunjuki mereka kepada kebenaran yang diinginkan Sang Pencipta. Dia berfirman:
"Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". (An-Nahl [16]: 64).

4. Allah swt mengutus para rasul as untuk iqamatuddin (menegakkan agama-Nya), menjaganya (dari pemalsuan dan upaya penyimpangan), untuk melarang manusia berpecah belah (berbeda) tentangnya, dan agar manusia berhukum dengan hukum yang diturunkan-Nya. Allah swt berfirman:
"Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)".
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat". (An-Nisa [4]: 105).

5. Allah swt mengutus para rasul as untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman tentang janji-janji kebaikan berupa nikmat abadi sebagai balasan ketaatan mereka; memperingatkan orang-orang kafir dengan akibat buruk kekafiran mereka, juga untuk membatalkan alasan kekafiran mereka di akhirat karena rasul telah menyampaikan kebenaran kepada mereka (sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak tahu kebenaran). Dia berfirman:
"(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (An-Nisa [4]: 165).

6. Para rasul as diutus untuk memberikan uswah hasanah (keteladanan yang baik) bagi manusia dalam perilaku yang lurus, akhlaq yang utama, ibadah yang shahih dan istiqamah di atas petunjuk Allah swt. Firman Allah swt:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (Al-Ahzab [33]: 21).

Arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk Ilahiah yang mulia ini sekali lagi tidak mungkin dicapai oleh manusia dengan semata menggunakan akal mereka. Mereka baru dapat mempelajarinya melalui wahyu Allah swt kepada para rasul-Nya.

Tanda-Tanda Kebenaran & Bukti-Bukti Risalah Para Rasul
Tanya: Apa saja adillah (bukti-bukti) yang dibekali Allah untuk para rasul-Nya agar mereka tidak didusatakan oleh manusia?
Jawab: Bukti-bukti ini oleh Al-Quran dinamakan ayat artinya tanda-tanda, indikator dan bukti-bukti yang membenarkan ucapan dan pengakuan para rasul as, sedangkan manusia (para ulama) menyebutnya mu’jizat.

Tanya: Apakah mu’jizat itu sebenarnya?
Jawab: Mu’jizat (bayyinah, burhan, atau ayat) adalah sesuatu yang manusia tidak mampu mendatangkannya yang diberikan Allah swt kepada nabi yang diutus untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dan ketetapan risalahnya.

Seolah-seolah seorang rasul berkata: “Wahai manusia, Allah telah mengutusku kepada kalian dan telah memberikan untukku tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai bukti pembenar ucapanku. Tanda-tanda atau bukti-bukti ini tidak akan mampu didatangkan kecuali oleh Allah swt, tak ada seorang pun manusia yang mampu menandinginya sehingga kalian tidak dapat menyangka bahwa aku berdusta atas nama Allah.”
Allah swt berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa". (Al-hadid (57):25).

Tanya: Apa saja contoh-contoh mu’jizat yang menjadi pendukung para rasul as?
Jawab: Diantara yang disebutkan Allah swt dalam Al-Quran adalah apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim as bersama kaumnya. Allah swt berfirman:
"Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (Al-Anbiya (21): 68-69).
Juga apa yang dikisahkan Allah kepada kita tentang kisah Nabi Musa as:
"Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mukjizat ini) termasuk sembilan buah mukjizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir'aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik". (An-Naml (27): 12).

Yang termasuk sembilan mu’jizat tersebut diantaranya adalah bentuk-bentuk azab yang terjadi atas Fir’aun dan kaumnya sebagai balasan kesombongan dan kekafiran mereka. Allah swt berfirman:
"Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa". (Al-A’raf (7): 133).

Contoh lain adalah yang Allah kisahkan kepada kita tentang mu’jizat Nabi Isa as:
(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata". (Al-Maidah (5): 110).

Karena terjadi tahrif (penyelewengan sengaja) yang dilakukan terhadap agama Nabi Isa as, orang-orang awam menganggap mu’jizat Isa as tersebut terjadi karena Isa adalah tuhan atau dia adalah anak tuhan, Maha Suci Allah dari persangkaan mereka.

Kesimpulan
• Allah swt mengutus para rasul as untuk mengenalkan kepada manusia tentang Allah – Rabb mereka – dan agar manusia mengetahui tujuan penciptaan mereka yakni beribadah kepada Allah, menyelamatkan mereka dari kecelakaan berupa perbedaan pendapat dalam masalah prinsip kehidupan (aqidah), agar para rasul dan para penerusnya menegakkan agama Allah dan berhukum dengan hukum Allah, juga untuk memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman dengan janji kenikmatan surga yang telah disiapkan untuk mereka dan memperingatkan orang-orang kafir dari hukuman kekafiran mereka, agar hal tersebut menjadi hujjah atas mereka, dan agar para rasul as menjadi suri teladan bagi manusia.

• Allah swt menguatkan para rasul-Nya dengan berbagai bukti yang oleh Al-Quran disebut ayat atau bayyinat sedangkan manusia menyebutnya mu’jizat, fungsinya sebagai saksi kebenaran kenabian dan risalah mereka, bahwa mereka benar-benar penyampai dari Tuhan mereka.


Ma'rifatullah 1

Pendahuluan

Mungkin ada dikalangan kita yang bertanya kenapa pada saat ini kita
masih perlu berbicara tentang Allah pada hal kita sudah sering mendengar
dan menyebut nama-Nya dan kita tahu bahawa Allah itu Tuhan kita.
Tidakkah itu sudah cukup untuk kita ?


Saudaraku, jangan sekali kita merasa sudah cukup dengan pemahaman dan
pengenalan kita terhadap Allah kerana semakin kita memahami dan
mengenali-Nya kita merasa semakin hampir dengan-Nya. Kita juga mahu agar
terhindar dari pemahaman-pemahaman yang keliru terhadap Allah dan
terhindar juga dari sikap-sikap yang salah dari kita terhadap Allah .

Ketika kita membicarakan tentang makrifatullah, bermakna kita berbicara
tentang Rabb, Malik dan Ilah kita. Rabb yang kita fahami dari istilah
al-Quran adalah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa.
Manakala Ilah pula mengandungi erti yang dicintai, yang ditakuti dan
juga sebagai sumber pengharapan. Kita boleh lihat hal ini di dalam surah
An-Naas : 1-3.

Dengan demikian maka jelaslah bahawa usaha kita untuk lebih jauh
memahami dan mengenal Allah adalah merupakan bahagian terpenting di
dalam hidup ini. Bagaimanakah jalan atau metod yang harus kita lalui
untuk mengenal Allah s.w.t. dan apakah halangan-halangan yang sentiasa
menghantui manusia daripada mengenal dan berdampingan dengan-Nya ?
Mungkin boleh kita merujuk kepada satu riwayat yang bermaksud:
"Kenalilah dirimu nescaya engkau akan mengenali Tuhanmu" . Dari
pengenalan diri sendiri , maka ia akan membawa kepada pengenalan
(makrifah) yang menciptakan diri iaitu Allah. Ini adalah kerana pada
hakikatnya makrifah kepada Allah adalah sebenar-benar makrifah dan
merupakan asas segala kehidupan rohani.

Setelah makrifah kepada Allah, akan membawa kita kepada makrifah kepada
Nabi dan Rasul, makrifah kepada Alam nyata dan alam ghaib dan makrifah
kepada alam akhirat.

Keyakinan terhadap Allah s.w.t menjadi mantap apabila kita mempunyai
dalil-dalil dan bukti yang jelas tentang kewujudan Allah lantas
melahirkan pengesaan dalam mentauhidkan Allah secara mutlak. Pengabdian
diri kita hanya semata-mata kepada Allah sahaja. Ini memberi erti kita
menolak dan berusaha menghindarkan diri dari bahaya-bahaya disebabkan
oleh syirik kepada-Nya.

Kita harus berusaha menempatkan kehidupan kita di bawah bayangan tauhid
dengan cara kita memahami ruang perbahasan dalam tauhid dengan benar
tanpa penyelewengan sesuai dengan manhaj salafussoleh. Kita juga harus
memahami empat bentuk tauhidullah yang menjadi misi ajaran Islam di
dalam al-Quran mahupun sunnah iaitu tauhid asma-wa-sifat, tauhid
rububiah, tauhid mulkiah dan tauhid uluhiah . Dengan pemahaman ini kita
akan termotivasi untuk melaksanakan sikap-sikap yang menjadi tuntutan
utama dari setiap empat tauhid tersebut.

Kehidupan paling tenang adalah kehidupan yang bersandar terus
kecintaannya kepada yang Maha Pengasih. Oleh kerana itu kita harus mampu
membezakan di antara cinta kepada Allah dengan cinta kepada selain-Nya
serta menjadikan cinta kepada Allah mengatasi segala-galanya. Apa yang
menjadi tuntutan kepada kita ialah kita menyedari pentingnya melandasi
seluruh aktiviti hidup dengan kecintaan kepada Allah , Rasul dan
perjuangan secara minhaji.

Di dalam memahami dan mengenal Allah ini, kita seharusnya memahami
bahawasanya Allah adalah merupakan sebagai sumber ilmu dan pengetahuan.
Ilmu-ilmu yang Allah berikan itu adalah menerusi dua jalan yang
membentuk dua fungsi iaitu sebagai pedoman hidup dan juga sebagai sarana
hidup. Kitab juga sepatutnya menyedari kepentingan kedua bentuk ilmu
Allah dalam pengabdian kepada Allah untuk mencapai tahap taqwa yang
lebih cemerlang.

-----------------

Ahammiah Makrifatullah
Sinopsis

Makrifatullah atau mengenal Allah adalah subjek utama yang mesti
disempurnakan oleh seorang muslim. Para mad'u yang diajak untuk terlibat
sama di dalam dakwah mestilah dipastikan betul mereka memiliki kefahaman
dan pengenalan yang sahih terhadap Allah s.w.t. Mesti terpacak kukuh di
dalam hati sanubari bahawa Allah adalah sebagai "Rabb" kepada sekelian
alam. Keyakinan ini tentu sekali bersandarkan kepada berbagai dalil dan
bukti yang kukuh. Dari keyakinan ini, akan membuahkan peningkatan iman
dan taqwa. Personaliti merdeka dan bebas adalah yang lahir dari
pengenalan yang mantap terhadap Allah. Juga akan lahir ketenangan,
keberkatan dan kehidupan yang baik sebagai manifestasi dari mengenali
Allah. Di akhirat akan dikurniakan pula dengan balasan syurga Allah.
Semua ini adalah bergaris penamat di keredhaan Allah s.w.t.

Hasyiah

1. Kepentingan ilmu makrifatullah

Syarah:

Riwayat ada menyatakan bahawa perkara pertama yang mesti dilaksanakan
dalam agama adalah mengenal Allah (awwaluddin makrifatullah) . Bermula
dengan mengenal Allah,maka kita akan mengenali diri kita sendiri.
Siapakah kita, dimanakah kedudukan kita berbanding makhluk-makhluk yang
lain, apakah sama misi hidup kita dengan binatang-binatang yang ada di
bumi ini, apakah tanggungjawab kita dan kemanakah kesudahan hidup kita.
Semua persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenali
betul-betul Allah sebagai Rabb dan Ilah. Yang Mencipta, Yang
Menghidupkan, Yang Mematikan dan seterusnya.

Dalil:

47:19. Ayat ini mengarahkan kepada kita dengan bahasa (ketahuilah
olehmu) bahawasanya tidak ada ilah selain Allah dan minta ampunlah untuk
dosamu dan untuk mukminin dan mukminat. Apabila al-Quran menggunakan
sighah amar (perintah) maka ia menjadi wajib menyambut perintah
tersebut. Dalam konteks ini mengetahui atau mengenali Allah
(makrifatullah ) adalah wajib.

3:18: Allah menyatakan bahawa tidak ada tuhan melainkan Dia, dan telah
mengakui pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu sedang Allah
berdiri dengan keadilan. Tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa
dan Maha Bijaksana.

22:72-73: Allah telah menjanjikan kepada mereka yang mengingkari
ayat-ayat Allah samada ayat qauliah atau kauniah dengan api neraka.
Janji ini Allah turunkan di dalam surah al-Hajj ayat 72-73: Apabila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang kamu dapati pada
muka-muka orang kafir kemarahan. Hampir-hampir mereka menendang
orang-orang yang membacakan kepada mereka ayat-ayat kami. Katakanlah
kepada mereka : Hendakkah aku khabarkan kepada kamu dengan yang lebih
buruk daripada itu , iaitulah neraka yang telah dijanjikan oleh Allah
kepada mereka yang kufur dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Wahai
manusia, dibawakan satu permisalan maka hendaklah kamu dengar !
Sesunggguhnya orang-orang (berhala-berhala) yang engkau sembah selain
Allah tidak akan mampu mencipta seekor nyamuk sekalipun seluruh mereka
berkumpul untuk tujuan itu. Dan jika mereka dihinggapi oleh seekor
lalat, mereka tidak mampu untuk menyelamatkan diri. Lemahlah orang yang
menuntut dan orang yang dituntut (sembah).

Oleh yang demikian makrifatullah menerusi ayat-ayatNya adalah suatu
kepentingan utama perlu dilaksanakan agar terselamat dari api neraka.

39:67 : Mereka tidak mentaqdirkan Allah dengan ukuran yang sebenarnya
sedangkan keseluruhan bumi berada di dalam genggaman-Nya pada Hari
Kiamat dan langit-langit dilipatkan dengan Kanan-Nya. Maha Suci Dia dan
Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan.

Orang-orang kafir tidak mentaqdirkan Allah dengan taqdir yang sebenarnya
kerana mereka tidak betul-betul makrifatullah. Ayat ini menarik kita
agar tidak salah taqdir terhadap hakikat ketuhanan Allah yang
sebenarnya. Oleh itu memerlukan makrifatullah yang sahih dan tepat.

2. Tema perbicaraan makrifatullah - Allah Rabbul Alamin

Syarah:

Ketika kita membicarakan tentang makrifatullah, bermakna kita berbicara
tentang Rabb, Malik dan Ilah kita. Rabb yang kita fahami dari istilah
al-Quran adalah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa.
Manakala Ilah pula mengandungi erti yang dicintai, yang ditakuti dan
juga sebagai sumber pengharapan. Kita boleh lihat hal ini di dalam surah
An-Naas : 1-3. Inilah tema di dalam makrifatullah. Jika kita menguasai
dan menghayati keseluruhan tema ini, bermakna kita telah mampu
menghayati makna ketuhanan yang sebenarnya.

Dalil:

13:16 : Katakanlah: Siapakah Rabb segala langit dan bumi ? Katakanlah :
Allah. Katakanlah: Adakah kamu mengambil wali selain daripada-Nya, yang
tiada manafaat kepada dirinya dan tidak pula dapat memberikan mudarat ?
Katakanlah: Adakah bersamaan orang yang buta dengan orang yang melihat ?
Bahkan adakah bersamaan gelap dengan Nur (cahaya)? Bahkan adakah mereka
mengadakan bagi Allah sekutu-sekutu yang menjadikan sebagaimana Allah
menjadikan, lalu serupa makhluk atas mereka ? Katakanlah : Allah Allah
yang menciptakan tiap-tiap sesuatu dan Dia Esa lagi Maha Kuasa.

6:12: Katakanlah : Bagi siapakah apa-apa yang dilangit dan dibumi ?
Katakanlah: Bagi Allah. Dia telah menetapkan ke atas diri-Nya akan
memberikan rahmat. Demi sesungguhnya Dia akan menghimpunkan kamu pada
Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang merugikan
diri mereka, maka mereka tidak beriman.

6:19: Katakanlah : Apakah saksi yang paling besar ? Katakanlah:
Allah-lah saksi di antara aku dan kamu . Diwahyukan kepadaku al-Quran
ini untuk aku memberikan amaran kepada engkau dan sesiapa yang sampai
kepadanya al-Quran. Adakah engkau menyaksikan bahawa bersama Allah ada
tuhan-tuhan yang lain ? Katakanlah: Aku tidak menyaksikan demikian.
Katakanlah: hanya Dialah tuhan yang satu dan aku bersih dari apa yang
kamu sekutukan.

27:59: Katakanlah: Segala puji-pujian itu adalah hanya untuk Allah dan
salam sejahtera ke atas hamba-hambanya yang dipilih. Adakah Allah yang
paling baik ataukah apa yang mereka sekutukan.

24:35: Allah memberi cahaya kepada seluruh langit dan bumi

2:255 Allah. Tidak ada tuhan melainkan Dia. Dia Hidup dan Berdiri
Menguasai seluruh isi bumi dan langit.

3. Didukung dengan dalil yang kuat:, 75: 14-15

Syarah:

Makrifatullah yang sahih dan tepat itu mestilah bersandarkan dalil-dalil
dan bukti-bukti kuat yang telah siap disediakan oleh Allah untuk manusia
dalam berbagai bentuk agar manusia berfikir dan membuat penilaian . Oleh
kerana itu banyak fenomena alam yang disentuh oleh al-Quran diakhirkan
dengan persoalan tidakkah kamu berfikir, tidakkah kamu melihat, tidakkah
kamu mendengar dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu boleh
mendudukkan kita pada satu pandangan yang konkrit betapa semua alam
cakerawala ini adalah di bawah milik dan pentadbiran Allah s.w.t.

Dalil:

Naqli - 6:19: Allah menurunkan al-Quran kepada Rasul sebagai bahan
peringatan untuk manusia
Aqli - 3:190: Kejadian langit, bumi dan pertukaran siang malam menjadi
bukti bagi orang yang berfikir
Fitri - 7:172 : Pertanyaan Allah kepada anak adam di alam fitrah, bukan
Aku tuhanmu ? Lalu diakuri

4. Dapat menghasilkan : peningkatan iman dan taqwa

Syarah:

Apabila kita betul-betul mengenal Allah menerusi dalil-dalil yang kuat
dan kukuh, hubungan kita dengan Allah menjadi lebih akrab. Apabila kita
hampir dengan Allah, Allah lebih lagi hampir kepada kita. Setiap ayat
Allah samada dalam bentuk qauliah mahupun kauniah tetap akan menjadi
bahan berfikir kepada kita dan penambah keimanan serta ketakwaan. Dari
sini akan menatijahkan personaliti hamba yang merdeka, tenang, penuh
keberkatan dan kehidupan yang baik. Tentunya tempat abadi baginya adalah
syurga yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba yang telah
diredhaiNya.

5. Kemerdekaan

6:82 : Orang-orang yang beriman dan tidak memcampurkan keimanannya
dengan kezaliman, untuk merekalah keamanan sedang mereka itu mendapat
petunjuk.

6. Ketenangan

13:28 : Orang-orang yang beriman dan tenteram hatinya dengan mengingati
Allah. Ingatlah (bahawa dengan mengingati Allah itu, tenteramlah segala
hati.

7. Barakah

7:96: Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, nescaya
kami tumpahkan kepada mereka keberkatan dari langit dan bumi tetapi
mereka itu mendustakan sebab itu Kami siksa mereka dengan sebab usahanya
itu.

8. Kehidupan yang baik

16:97: Sesiapa yang melakukan kebaikan baik lelaki mahupun perempuan
sedang dia beriman nescaya Kami siapkan dia dengan kehidupan yang baik

9. Syurga

10:25-26: Mereka yang melakukan kebaikan akan mendapat kebaikan dan
tambahan dari Allah dan mereka akan menjadi penduduk tetap syurga Allah.

10. Mardhotillah:

98:8: Balasan untuk mereka di sisi tuhannya ialah syurga Adne yang
mengalir sungai dibawahnya sedang mereka kekal selama-lama di dalamnya .
Allah redha kepada mereka dan mereka redha kepada Allah. Syurga itu
untuk orang-orang yang takut kepada Allah.

Makrifatullah 2

At-Thoriq Ila Makrifatillah
Sinopsis

Apabila kita ingin mencapai sesuatu sasaran, pastinya kita mesti tahu
apakah dan bagaimanakah jalan yang akan menyampaikan kita kepada sasaran
itu. Begitu juga dengan sasaran untuk mengenal Allah bukan sebarangan
cara boleh digunakan kerana jalan yang tidak betul akan membawa kepada
pengenalan yang salah. Jalan menuju kepada makrifatullah adalah menerusi
ayat-ayat yang terang dan jelas sebagai satu penyataan dari Allah (ayat
qauliah). Ayat ini adalah penyataan-penyataan pengenalan yang
difirmankan oleh Allah sendiri di dalam al-Quran. Selain itu, ada juga
ayat-ayat kauniah yang menjadi bahan berfikir manusia terhadap kejadian
alam yang begitu unik ini. Dari dua jalan ini Islam mengajak manusia
menggunakan akal dan juga naql untuk menuju makrifatullah . Kedua-dua
metod ini akan melahirkan keyakinan, langsung mencetuskan pembenaran
(tasdiq) dalam hati kecil manusia yang akhirnya membuahkan keimanan yang
mantap terhadap Allah s.w.t.


Selain metod ini, ada juga manusia yang menggunakan metod duga-dugaan
dan hawa nafsu untuk mengenal Allah. Paling pasti adalah mereka tidak
akan bertemu sasarannya yang sebenar malah dia boleh dipermainkan oleh
syaitan seperti yang berlaku kepada penganut hindu, budha dan lain-lain
lagi yang menggambarkan tuhan itu mengikut apa yang mereka khayalkan.
Metod ini akan berakhir dengan kekufuran.

Hasyiah

1.Jalan menuju pengenalan terhadap Allah s.w.t .

Syarah

Allah s.w.t tidak menampilkan kewujudan Zatnya Yang Maha Hebat di
hadapan makhluk-makhluknya secara langsung dan dapat dilihat seperti
kita melihat sesama makhluk bahkan selagi kita boleh nampak dengan mata
kepala kita, maka itu bukanlah tuhan . Allah juga menganjur kepada
manusia menerusi Nabi s.a.w supaya berfikirlah pada makhluk-makhluk
Allah tetapi jangan sekali anda berfikir tentang zat Allah.
Makhluk-makhluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah
yang disarankan di dalam banyak ayat al-Quran agar menjadi bahan
berfikir tentang kebesaran Allah.

2.Ayat Qauliah

Syarah

Ayat-ayat qauliah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah s.w.t di
dalam al-Quran. Ayat-ayat ini boleh menyentuh pelbagai aspek termasuklah
jalan-jalan kepada makrifatullah.

Dalil

95:1-5 : Allah mengajak kita berfikir tentang kejadian makhluknya
termasuk buah-buahan, bukit-bukau bahkan diri manusia itu sendiri
sehingga akhirnya manusia dapat menyimpulkan satu keyakinan bahawa
penciptanya adalah Allah.

3.Ayat Kauniah

Syarah

Ayat Kauniah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling kita yang
diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda,
kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh
kerana alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem
dan peraturan nya yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan
keagungan Penciptanya.

Dalil

41:53: Allah menjelaskan bahawa Dia akan tunjukkan ayat-ayat kauniah-Nya
diufuq dan juga pada diri manusia sendiri sehingga menjadi terang dan
jelas akan kekuasaan Allah.

3:190: Pada kejadian langit dan bumi serta pertukaran siang dan malam
juga adalah ayat kauniah kepada kekuasaan Allah bagi sesiapa yang
berakal.

4.Metod Islam dengan naqli dan akal

Syarah

Islam menghargai nilai akal yang dimiliki manusia kerana dengan sarana
akal ini manusia mampu berfikir dan memilih antara yang benar atau
salah. Walau bagaimanapun, dengan akal semata-mata tanpa panduan dari
Pencipta akal pencapai pemikiran cukup terbatas. Apa lagi jika
dicampurkan dengan anasir hawa nafsu dan zhan. Gabungan antara kemampuan
akal dan panduan dari Penciptanya akan menghasilkan pengenalan yang
tepat dan mantap terhadap Allah s.w.t. Menjadi satu kesalahan apabila
manusia tidak menggunakan akalnya untuk berfikir.

Dalil

10:100-101: Tiadalah seseorang itu beriman melainkan dengan izin Allah.
Dia menjadikan siksaan atas orang-orang yang tidak berfikir.
KatakanlahPerhatikanlah apa-apa yang dilangit dan dibumi. Tetapi tidak
bermanafaat keterangan dan peringatan bagi kaum yang tidak beriman.

65:10 Ancaman Allah dengan siksaan bagi mereka yang berakal tapi tidak
berfikir

67:10 Penyesalan yang pasti bagi mereka yang tidak berfikir

6.Tasdiq (membenarkan)

Syarah

Hasil dari berfikir dan meneliti secara terus menurut pedoman-pedoman
yang sewajarnya, akan mencetuskan rasa kebenaran, kehebatan dan
keagungan Allah . Boleh jadi ia berbetulan dengan firman Allah 53:11(
Tiadalah hatinya mendustakan (mengingkari) apa-apa yang dilihatnya).
Hati mula membenarkan dan akur kepada kebijaksanaan Tuhan.

Dalil

3:191: Orang-orang yang mengingati Allah setiap ketika akan terungkap
pada lisannya ucapan Maha Suci Engkau ya Allah.

50:37: Yang demikian itu menjadi peringatan bagi orang yang mempunyai
hati atau mendengarkan sedang hatinya hadir.

7.Menghasilkan iman

Syarah

Metod pengenalan kepada Allah yang dibawa oleh Islam ini cukup efektif
secara berurutan sehingga akhirnya menghasilkan keimanan sejati kepada
Allah azzawajalla.

8.Metod selain Islam

Syarah

Pemikiran berkenaan theologi dan ketuhanan banyak juga di bawa oleh
pemikir-pemikir dari serata dunia tetapi tidak berlandaskan kepada metod
yang sebenar. Kebanyakannya berlandaskan duga-dugaan, sangka-sangkaan
dan hawa nafsu. Pastinya metod cacamerba ini tidak akan sampai kepada
natijah yang sebenar kerana bayang-bayang khayalan tetap menghantui
pemikiran mereka. Ada tuhan angin, tuhan api, tuhan air yang berasingan
dengan rupa-rupa yang berbeza seperti yang digambarkan oleh Hindu, Budha
dan seumpamanya.

9.Dugaan dan hawa nafsu

Syarah

Dua unsur utama dalam metod mengenal Tuhan yang tidak berlandaskan
disiplin yang sebenar adalah sangka-sangkaan dan juga hawa nafsu.
Campurtangan dua unsur ini sangat tidak mungkin untuk mencapai natijah
yang tepat dan sahih.

Dalil

2:55 : Kaum Nabi Musa mengambil anak lembu sebagai tuhan dan cabar untuk
tidak beriman dengan Musa kecuali setelah melihat Allah secara terang,
lalu mereka disambar oleh halilintar.

10:36: Kebanyakan mereka tidak mengikut kecuali duga-dugaan semata-mata.
Sesungguhnya dugaan itu tidak cukup untuk mendapat kebenaran sedikitpun.

6:115 : Telah tamatlah kalimah Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan.

10.Ragu-ragu

Syarah

Apabila jalan yang dilalui tidak jelas dan tidak tepat, maka hasil yang
di dapati juga sangat tidak menyakinkan. Mungkin ada hasil yang
didapati, tetapi bukan hasil yang sebenarnya. Bagaimanakah kita ingin
mengenal Allah tetapi kaedah pengenalan yang kita gunakan tidak menurut
neraca dan panduan yang telah ditetapkan oleh Allah. Kadangkala
sayyidina umar tersenyum sendirian mengenangkan kebodohannya menyembah
patung yang dibuatnya sendiri dari gandum sewaktu jahiliah , apabila
terasa lapar dimakannya pujaan itu.

Dalil

22:55: Orang-orang kafir sentiasa dalam keraguan.

24:50: Apakah ada dalam hati mereka penyakit, atau mereka masih
ragu-ragu atau takut

11.Berakibat kufur

Semua metod pengenalan yang tidak berasaskan cara yang dianjurkan oleh
Islam iaitu menerusi aql dan Naql akan menemui jalan serabut iaitu
kekufuran terhadap Allah s.w.t.

-------------

Mawani' Makrifatullah
Sinopsis

Walaupun ayat-ayat Allah sama ada ayat-ayat qauliah mahupun kauniah
adalah terbuka kepada sesiapa sahaja yang ingin membaca dan menelitinya
, namun terdapat berbagai halangan yang akan berhenti di hadapan kita
yang didokong oleh iblis dan hawa nafsu bagi memastikan anak cucu adam
terus berada di dalam kesesatan dan jauh dari petunjuk Allah s.w.t.
Halangan-halangan ini muncul dalam bentuk sifat-sifat peribadi yang
kontradik berpunca dari syahwat seperti nifaq, takabbur, zalim, dusta
dan sifat-sifat yang berpunca dari salah faham atau syubhat seperti
jahil, ragu-ragu, menyimpang. Kesemua ini menatijahkan kekufuran
terhadap Allah s.w.t.

Hasyiah

Sifat yang berasal dari penyakit syahwat
1. Fasiq

Syarah

Iaitu orang-orang yang melanggar janji Allah, memutuskan apa yang
diperintahkan oleh Allah menghubungkannya dan mereka melakukan bencana
di atas muka bumi

Dalil

2:26-27: Sesungguhnya Allah tidak malu menjadikan nyamuk untuk menjadi
perumpamaan atau benda yang lebih hina daripadanya. Adapun orang-orang
yang beriman mengetahui bahawa yang demikian itu suatu kebenaran dari
Tuhan tetapi orang-orang yang kafir berkata: Apakah maksud Allah dengan
perumpamaan ini ?

59:19: Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah lalu
Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah
orang-orang yang fasiq.

2. Sombong

Syarah

Adalah orang yang hatinya engkar dan membantah terhadap ayat-ayat Allah
dan mereka tidak beriman dengan Allah

Dalil

16:22 : Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhirat, hati mereka
indkar dan merekaitu orang-orang yang sombong

40:35: Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan yang
sampai kepada mereka. Amat besarlah kebencian di sisi Allah dan di sisi
orang-orang yang beriman (terhadap mereka). Demikianlah Allah mengecap/
menutup tiap-tiap hati orang yang sombong lagi ganas.

40:56 : Orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah tanpa keterangan

7:12: Allah telah menghalau Iblis dari syurga kerana bersikap sombong
dan tidak mahu tunduk kepada arahan Allah.

3. Zalim

61:7: Siapakah yang terlebih zalim daripada orang yang mengada-adakan
dusta terhadap Allah sedang dia diseru kepada Islam ? Allah tidak
memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

32:22 : Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang diberikan
peringatan dengan ayat-ayat tuhannya kemudian dia berpaling daripadanya…

4. Dusta

2:10 : Dalam hati mereka ada penyakit (syak wasangka) lalu ditambah
Allah penyakit itu dan untuk mereka itu siksa yang pedih kerana mereka
berdusta.

77:9-19: Kecelakaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah.

5. Banyak dosa

83:14 : Berkarat hati mereka kerana dosa yang mereka lakukan.

Semua sifat-sifat yang disebutkan di atas tadi akan berakhir dengan
kemurkaan dari Allah s.w.t. Walau bagaimanapun sifat-sifat ini boleh
dirawati dan diubati dengan usaha yang penuh mujahadah. Manakala
kelompok kedua adalah sifat-sifat yang berasal dari penyakit syubhat
yang ada pada personaliti seseorang.
7. Jahil

39-65: Orang-orang yang tidak mengambil iktibar dari wahyu

8. Ragu-ragu

22:55: Orang-orang kafir sentiasa di dalam keraguan

9. Menyimpang

5:13 : Oleh kerana mereka melanggar perjanjian , Allah kutuk mereka dan
menjadikan hati mereka keras sehingga mereka mengubah kalimat Allah.

10. Lalai

7:179 : Mereka memiliki hati, mata dan telinga tetapi semuanya tidak
difungsikan dan mereka menjadi seumpama binatang lalu disediakan kepada
mereka jahannam.

Semua sifat-sifat yang berpunca dari syubhat ini akan berakhir dengan
kesesatan kerana ia menghalang dari menerima hidayah daripada Allah.
Fenomena ini boleh diubati dengan ilmu-ilmu Islam yang di dapati lalu
diaplikasikan dalam bentuk amalan .

----------------

Adillah Ala Wujudillah
Sinopsis

Kewujudan Allah s.w.t adalah sesuatu yang cukup terang sehingga
sesetengah pihak yang ekstrem berpendapat kewujudan Allah tidak perlu
kepada dalil lantaran terlalu jelas. Walau bagaimanapun dalil-dalil yang
membuktikan kewujudan Allah ini boleh kita lihat dari berbagai aspek,
antaranya dari aspek fitrah, aspek pancaindera, dari aspek logik /aqal,
dari aspek nas/naql dan juga dari aspek sejarah. Bila kita membicarakan
dalil-dalil kewujudan Allah, kita tidak bermaksud
perbincangan-perbincangan falsafi yang merumitkan tetapi bagaimana
dalil-dalil itu dapat difahami dengan mudah dan menunjangkan keyakinan
terhadap Allah s.w.t.

Hasyiah

1. Dalil Fitrah

Syarah

Adalah dalil yang lahir dari fitrah asal manusia itu sendiri. Hal ini
banyak dirakamkan di dalam al-Quran, bagaimana manusia umumnya mengakui
kewujudan Allah.

Dalil

7:172 : Allah bertanya: Bukankah Aku Tuhan kamu ? Sahutnya: Ya, Kami
menjadi saksi

29:61 : Demi kalau engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang
menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, nescaya
mereka menjawab: Allah.

43:9 : Demi jika engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan
langit dan bumi, nescaya mereka menjawab: yang menciptakan semuanya
adalah (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

75:14-15: Bahkan manusia jadi saksi atas dirinya sendiri meskipun ia
menerangkan beberapa keuzuran

2. Dalil Indera

Syarah

Adalah dalil-dalil yang dapat dinikmati, dilihat, dirasai atau disentuhi
oleh indera.

Dalil

54:1: Telah hampir saat kiamat dan bulan pun terbelah

17:1 : Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari
dari Masjidil Haram

8:9 : Sesungguhnya Aku menolong kamu dengan seribu malaikat yang
beriringan

3:125: Ya, jika kamu sabar dan taqwa dan datang orang-orang kafir itu
bersegera kepadamu tuhanmu menolongmu dengan lima ribu malaikat

3. Dalil Aqli

Syarah

Adalah dalil-dalil yang berasaskan akal

Dalil

41:53: Nanti akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda
kekuasaan) Kami di ufuk-ufuk dan pada diri mereka sendiri.

27:88 : Engkau lihat gunung-gunung, engkau kira ia tetap padahal ia lari
seperti larinya awan

87:1-4: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi yang menciptakan semua
alam lalu meyempurnakan kejadiannya, dan yang menentukan dan memberi
petunjuk dan yang menumbuhkan padang rumput (tanam-tanaman).

4. Dalil Naqli

Syarah

Adalah dalil-dalil yang bersandarkan kepada nas-nas.

Dalil

4:82 : Tidakkah mereka mentadabbur al-Quran ? Sekiranya al-Quran itu
dari sisi selain Allah nescaya mereka mendapati banyak perselisihan di
dalamnya.

17:88 : Katakanlah: Demi jika jika berhimpun manusia dan jin hendak
memperbuat seumpama al-Quran ini, nescaya mereka tidak dapat memperbuat
seumpamanya.

15:9: Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan dan Kami
memeliharanya.

5. Dalil Sejarah

Syarah

Adalah dalil-dalil kekuasaan dan keagungan Allah yang diambil dari
peristiwa-peristiwa yang telah berlaku di atas muka bumi.

Dalil

3:137 : Sesungguhnya telah lalu beberapa peraturan (Allah) sebelum kamu,
maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah, bagaimana akibatnya
orang-orang yang mendustakan agama.

7:176 : Demikianlah umpamanya kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.
Sebab itu kisahkanlah kisah itu, mudah-mudahan mereka berfikir.

12:111: Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu ada ibrah (pengajaran)
bagi orang-orang yang berakal.

11:120: Setiap riwayat kami kisahkan kepadamu di antara perkhabaran para
rasul supaya Kami tenteramkan hatimu dengannya.

Mengagung Allah dan Mentauhidkan Allah

Syarah

Dari semua dalil-dalil yang dapat dilihat di atas itu adalah berfungsi
menguatkan pandangan kita betapa keagungan Allah s.w.t begitu luarbiasa
dan menundukkan kita sendiri di hadapan keagungan ini. Langsung
mencetuskan tauhidullah yang luarbiasa.

Dalil

21:92 : Sesungguhnya ini, umat kamu (hai mukminin) umat yang satu dan
Aku tuhanmu, sebab itu sembahlah Aku.