Tampilkan postingan dengan label Ukhuwah Islamiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukhuwah Islamiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

Enam Perusak Ukhuwah

Pada masyarakat Islam, persatuan dan kesatuan atau lebih sering disebut dengan ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati. Karena itu, ketika Nabi Saw berhijrah ke Madinah, yang pertama dilakukannya adalah Al-Muakhah, yakni mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar. Ini berarti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman, maka seharusnya ukhuwah Islamiyah yang didasari oleh iman menjelma dalam kehidupan sehari-hari, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS Al-Hujurat (49):10]

Satu hal yang harus diingat bahwa, ketika ukhuwah islamiyah hendak diperkokoh atau malah sudah kokoh, ada saja upaya orang-orang yang tidak suka terhadap persaudaraan kaum muslimin, mereka berusaha untuk merusak hubungan di antara sesama kaum muslimin dengan menyebarkan fitnah dan berbagai berita bohong. Dalam kehidupan umat Islam, kita akui bahwa ukhuwah Islamiyah belum berwujud secara ideal, namun musuh-musuh umat ini tidak suka bila ukhuwah itu berwujud, mereka terus berusaha menghambatnya. Karena itu, setiap kali ada berita buruk, kita tidak boleh langsung mempercayainya, tapi lakukan tabayyun atau cek dan ricek terlebih dahulu kebenaran berita itu. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS Al-Hujurat (49): 6]
Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) tersebut di atas adalah, suatu ketika Al-Harits datang menghadap Nabi Muhammad saw., beliau mengajaknya masuk Islam, bahkan sesudah masuk Islam ia menyatakan kemauan dan kesanggupannya untuk membayar zakat. Kepada Rasulullah, Al-Harits menyatakan, “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang untuk masuk Islam dan membayar zakat dan bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya.” Namun ketika zakat sudah banyak dikumpulkan dan sudah tiba waktu yang disepakati oleh Rasul, ternyata utusan beliau belum juga datang. Maka Al-Harits beserta rombongan berangkat untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.

Sementara itu, Rasulullah saw. mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat, namun di tengah perjalanan hati Al-Walid merasa gentar dan menyampaikan laporan yang tidak benar, yakni Al-Harits tidak mau menyerahkan dana zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata, “Kami diutus kepadamu.” Al-Harits bertanya, “Mengapa?” Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Al-Walid bin Uqbah, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya.”
Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku.” Maka ketika mereka sampai kepada Nabi saw., beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menahan zakat dan hendak membunuh utusanku?” “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat itu.
Surat Al Hujurat ayat 6 di atas menggunakan kata naba’ bukan khabar. M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman 262 membedakan makna dua kata itu. “Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khabar menunjukkan berita secara umum. Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, omong kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karena hanya akan menyita waktu dan energi.”

Enam Perusak Ukhuwah
Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan. Disamping harus mengecek kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita yang muslim, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah bisa tetap terpelihara. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat (49): 11-12]

Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri. Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.

Ukhuwah Islamiyah

“Ukhuwah Islamiyah“ pasti bukan kata yang asing ditelinga kita. Sebagai mu’min kita semua telah disatukan dengan ukhuwah, dan memang gak ada ukhuwah/persaudaraan yang paling kuat kecuali persaudaraan orang yang beriman sehingga Rasulallah pernah bersabda : “Andai para raja-raja Romawi itu mengetahui nikmatnya ukhuwah yang kita miliki maka mereka akan berusaha sekuat tenaga merebutnya dengan pedang-pedang mereka”.
“Subhanallah…” Nah…,Gimana caranya agar kita merasakan nikmat nya ukhuwah?? Ternyata Rasulullah SAW juga punya kiat–kiat nya


Membela Mu’min yang digunjingkan
“Ah yang bener? Masa sih dia kayak gitu? Ih amit- amit deh…”. Itu ungkapan yang biasa terdengar ketika “diskusi” makin hangat. Bukannya membela orang yang digossipkan, kadang kita malah asyik dalam membicarakan keburukan saudara kita seiman. Padahal Allah sudah memperingatkan kita melalui QS Al Isra :36 .(baca sendiri ya…)

“Kejelekan dia? Nggak tahu tuh..”
Rasulullah bersabda : “Hai Orang-orang yang beriman --dengan lisannya namun keimanan itu belum masuk kedalam hatinya--, janganlah kalian menggunjing atau mencari aib kaum muslimin,karena barangsiapa mencari –cari aib saudaranya maka Allah akan mencari aibnya.Barangsiapa aibnya dicari oleh Allah, niscaya aib itu akan ditampakkan-Nya meskipun ia bersembunyi dirumahnya”.(HR Abu Daud dari Abu Hurairah).

Mema’afkan Kesalahan saudaranya
Dalam sebuah riwayat dari Hakim dengan sanad dari Anas bin Malik,Rasulullah dengan bercucuran airmata bahkan menggambarkan keindahan kota-kota dari perak dan istana dari emas yang bertabur mutiara di Syurga bagi orang –orang yang mema’afkan kesalahan saudaranya.

Berbuat baik terhadap Saudara Seiman
Terkadang kiat meremehkan sebuah kebaikan ,walau berupa senyuman. Namun di sisi Allah ,terdapat sebuah pahala yang besar.Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar bahea Rsulullah bersabda :”Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun,sekalipun sekedar wajah berseri yang kau berikan ketika berjumpa saudaramu “.

Tidak menimpakan kesulitan bagi saudaranya, walaupun hanya bercanda
Bercanda sih boleh -boleh saja, tapi jangan sampai karena bercanda kita sampai menyakiti saudara kita . Rasulullah bersabda :”Terkutuklah siapa saja yang menimpakan bahaya atau membuat tipu daya atas seorang mu’min”.

Menahan diri dari membicarakan aib
Ukhuwah itu bukan cuma dimulut ,tapi harus terpatri kuat di dalam dada. so, jangan sampai tergoda untuk membicarakan aib saudara kita bahkan jangan sampai bersu’uzon . karena hal itu hanya akan merusak ukhuwah di antara kita.

Berbicara dengan apa yang disukai Saudaranya
Berbicara dengan kata-kata yang menyenangkan, memanggil dengan nama yang disukai, memuji saudara kita –tanpa berlebihan sehingga memancing Riya – mengucapkan terimakasih atas kebaikan saudara kita; semua itu akan memperat ukhuwah dijalan Allah.

Saling menyampaikan taushiah
“Dan tetaplah memberi peringatan ,karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi kamu Mu’minin “( QS.Adz-Dzariat :55). Juga dalam QS. Al-Ashr : 3 ,Allah menekankan pentingnya budaya taushiah. Tapi dalam bertaushiah, perlu kita perhatikan adab2nya agar taushiah tersebut diterima dengan baik, dan tidak menyinggung perasaan saudara kita.

Saling meringankan beban
Sesungguhnya kita adalah satu tubuh ,jadi sepantasnya bila ada saudara kita yang kesusahan kita ikut membantu meringankan masalahnya.

Mendoakan Saudara selama Hidup ataupun Mati
Sesungguhnya Allah mendengar do’a seorang mu’min terhadap mu’min lainnya.Dan tiadalah do’a itu kecuali para malaikat akan menyambut :”Dan untukmu seperti itu juga”. Sungguh, saling mendo’akan sesama mu’min akan mepertautkan hati walau dipisahkan jarak yang jauh.

Semoga kiat-kiat yang diajarkan rasulullah ini dapat kita ‘amalkan sebaik-baiknya sehingga kita dapat merasakan nikmat ukhuwah Islamiyah , sebagaimana yang telah dicontohkan masa kehidupan para sahabat yang telah diikat dengan keimanan, rasa kasih sayang di jalan Allah dengan penuh keikhlasan. Mereka itu telah berjaya membentuk masyarakat dan negara Islam yang paling berjaya.